KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah
kami panjatkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat dan hidayah-nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Adapun judul makalah ini adalah
"Awal Masa Kanak - Kanak” Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan.
Meskipun penyusun telah
berusaha untuk menyelesaikan makalah ini semaksimal mungkin, kami menyadari
bahwa makalah ini masih sangat minim dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini berguna dan
bermanfaat bagi kita semua, amin.
BABI
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Umur 2 sampai 6 tahun
adalah anak usia dini (early childhood) atau tahun-tahun pra sekolah atau masa
menjalani Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), baik formal maupun nonformal. Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan dan dan pengembangan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. Kegiatan itu dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut. Seperti bayi dan balita, anak-anak prasekolah tumbuh
dengan cepat, baik secara fisik, kognitif maupun psikososial. Terutama terlihat
pada anak usia dini adalah kenyataan bahwa perkembangannya benar-benar
terintegrasi baik secara biologis, psikologis, maupun perubahan sosial yang terjadi
saat ini (serta sepanjang sisa masa hidup) yang saling terkait. Usia prasekolah
memberikan contoh luar biasa bagaimana anak-anak memainkan peran aktif dalam
pengembangan kognitif mereka sendiri, khususnya dalam memahami,menjelaskan, mengorganisasikan,
memanipulasi, membangun, dan memprediksi. Anak-anak prasekolah mengalami
kesulitan mengendalikan perhatian mereka sendiri dan fungsi memori, bingung
dalam menampilkan diri, dangkal dengan realitas, dan fokus pada satu aspek
pengalaman pada suatu waktu. Anak-anak sekolah cenderung membuat kesalahan
lintas budaya yang sama karena kemampuan kognitif yang belum matang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan fisik pada masa
kanak-kanak awal?
2. Bagaimana perkembangan kognitif pada
masa kanak-kanak awal?
3. Bagaimana perkembangan psikososial pada
masa kanak-kanak awal?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui perkembangan fisik pada masa
kanak-kanak awal.
2. Mengetahui perkembangan kognitif pada
masa kanak-kanak awal.
3. Mengetahui perkembangan psikososial pada
masa kanak-kanak awal.
BABII
PEMBAHASAN
A. PERKEMBANGAN FISIK
Masa kanak-kanak awal
terjadi pada rentang usia 2 – 6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa
prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.
Seperti bayi dan
balita, anak-anak prasekolah tumbuh dengan cepat, baik secara fisik, kognitif maupun
psikososialnya. Dengan perubahan yang cepat itu, bukan tidak mungkin seorang
yang tadinya gemuk pendek dan hampir tidak dapat berbicara tiba-tiba menjadi
seorang anak yang lebih tinggi dan ramping yang mampu berbicara secara baik dan
lancar. Anak usia Taman Kanak-kanak dalam rentangan usia 4-5 atau 6 tahun
berada dalam masa usia emas (golden age) segala sesuatunya sangat berharga,
baik fisik, emosi dan intelektualnya. Anak usia Taman Kanak-kanak ini sangat
besar energinya sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang sangat tepat
sehingga dapat berkembang kemampuan motorik kasar maupun halus. Perkembangan
fisik anak mengalami perubahan meliputi :
1. Perubahan-perubahan dalam tubuh, seperti
pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ
indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon dll.
Perubahan tubuh masa
kanak-kanak awal saat usia prasekolah tumbuh lebih besar, presentase kenaikan
tinggi dan berat badan menurun di tiap tahun berikutnya. Anak perempuan hanya sedikit
lebih kecil dan lebih ringan daripada anak laki-laki selama tahun-tahun ini.
Baik tubuh anak perempuan maupun anak laki-laki mengecil saat batang tubuh
mereka memanjang.[1]
Pada umumnya masa kanak-kanak awal, rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm
setiap tahun, dan bertambah berat 2,5 – 3,5 kg setiap tahun. Dalam kasus ini
perlu untuk diketahui bahwa setiap pola pertumbuhan fisik pada anak selalu
bervariasi dan tidak sama. Ini disebabkan oleh dua faktor utama yang sangat
berpengaruhi terhadap pola pertumbuhan fisik yaitu asal-usul etnis dan asupan
gizi.
2. Perubahan-perubahan dalam cara-cara
individu dalam menggunakan tubuhnya, seperti
perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan
seksual).
Keterampilan umum yang sering
dilakukan anak biasanya menyangkut keterampilan tangan dan kaki. Keterampilan
dalam aktivitas makan dan berpakaian sendiri biasanya dimulai pada masa bayi
dan disempurnakan pada masa kanak-kanak awal. Kemajuan terbesar keterampilan berpakaian
antara usia 1,5 dan 3,5 tahun. Kegiatan yang cukup menyenangkan bagi masa anak ini
ialah bermain-main. Selain itu ciri yang spesifik pada masa bawah tiga tahun si
anak masih memiliki kelekatan emosi dengan orangtua, takut berpisah, biasanya
suka membuat cerita yang tak masuk akal, suka berbohong dan egosentris.[2] Keterampilan
kaki dapat dilakuan anak dengan belajar gerakan-gerakan kaki. Antar usia 3 - 4
tahun anak dapat mempelajari sepeda roda tiga dan berenang. Keterampilan kaki
lain yang dikuasai anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan
di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es, menari. Pada saat
anak-anak mencapai usia TK, mereka sudah harus dapat mandi dan berpakaian
sendiri, mengikat tali sepatu dan menyisir rambut dengan sedikit bantuan atau
tanpa bantuan sama sekali. Antara usia 5 dan 6 tahun sebagian besar anak-anak
sudah pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting,
dapat membentuk tanah liat, bermain membuat kue-kue dan menjahit, mewarnai dan
menggambar dengan pensil atau krayon dan menggambar orang. Mereka juga sudah
belajar melompat dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat memanjat.
B. PERKEMBANGAN KOGNITIF
1. Perkembangan Motorik
Masa kanak–kanak awal
usia 2 sampai 6 tahun, masa ini merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya
masuk kelompok bermain dan Taman kanak-kanak. Di dalam Islam masa ini disebut
dengan fase al-thifl .[3] Anak
usia Taman Kanak-kanak dalam rentangan usia 4-5 atau 6 tahun berada dalam masa
usia emas (golden age) segala sesuatunya sangat berharga, baik fisik, emosi dan
intelektualnya. Perkembangan fisik anak mengalami perubahan seperti, tinggi
badan dan berat badan. Masa kanak-kanak rata-rata tinggi badannya bertambah
6.25 cm setiap tahun dan bertambah berat badan 2-5 kg. Pada usia 6 tahun berat
badan anak normal harus kurang lebih mencapai 7 kali berat pada waktu lahir.
Anak usia Taman Kanak-kanak ini sangat besar energinya sehingga diperlukan
suatu pembelajaran yang sangat tepat sehingga berkembang kemampuan motorik
kasar maupun halus.
Prinsip-prinsip
perkembangan fisiologis anak usia Taman Kanak-kanak adalah koordinasi gerakan
motorik, baik motorik kasar maupun halus. Pada awal perkembangannya, gerakan
motorik anak tidak terkoordinasi dengan baik. Sehingga seiring dengan kematangan
dan pengalaman anak kemampuan motorik tersebut berkembang dari tidak
terkoordinasi dengan baik menjadi terkoordinasi secara baik. Prinsip utama
perkembangan motorik adalah kematangan, urutan,motivasi, pengalaman dan latihan
atau praktek.
Perkembangan Motorik
Kasar merupakan tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh,
seperti: berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap,
serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan
keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. Pada anak usia 4 tahun, anak
sangat menyenangi kegiatan fisik yang mengandung bahaya, seperti melompat dari
tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. Pada usia 5
atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak pada
masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau
kegiatan lainnya yang mengandung bahaya. Selain mengandalkan kekuatan otot,
rupanya kesempurnaan otak juga turut menentukan keadaan. Anak yang pertumbuhan
otaknya mengalami gangguan tampak kurang terampil menggerak-gerakkan tubuhnya.
Perkembangan gerakan
motorik halus anak TK ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam
hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan
menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus
anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini
masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan.
Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna
sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6
tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. jadi, pada masa ini
anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti
mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara
bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar.
2. Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan suatu
kelebihan untuk umat manusia. Dengan menggunakan bahasa orang mampu membedakan
antara subjek dan objek. Anak mempunyai kesanggupan untuk menyatakan apa yang
terkandung dalam pikirannya dengan suara. Potensi itu mempunyai kemungkinan
besar untuk dikembangkan. Perkembangan bahasa anak usia prasekolah dapat diklasifikasikan
ke dalam 2 tahap, yaitu: masa usia anak 2-2 tahun 6 bulan dan masa usia anak 2 tahun
6 bulan- 6 tahun.
Piaget disebut
perkembangan kognitif yang terjadi antara usia 2 dan 7 sebagai tahap praoperasional.
Dalam tahap ini, anak-anak meningkatkan penggunaan bahasa dan simbol-simbol lainnya,
imitasi perilaku mereka dewasa, dan bermain mereka. Anak-anak muda
mengembangkan daya tarik dengan bahasa kata-baik dan buruk. Anak-anak juga
bermain game make-percaya: menggunakan kotak kosong sebagai mobil, bermain
keluarga dengan saudara kandung, dan memelihara persahabatan imajiner.
Kemampuan bahasa juga
terus meningkatkan pada anak usia dini. Bahasa adalah hasil dari kemampuan
seorang anak untuk menggunakan simbol-simbol. Dengan demikian, sebagai otak mereka
berkembang dan memperoleh kemampuan untuk berpikir representasional, anak-anak
juga memperoleh dan memperbaiki kemampuan bahasa.[4]
Hal ini menjadikan anak lebih mudah menangkap dan meniru ucapan atau ungkapan
dari orang-orang yang dekat dengan ia. Beberapa peneliti, seperti Roger Brown,
telah mengukur perkembangan bahasa dengan jumlah rata-rata kata dalam kalimat
anak. Semakin banyak kata anak menggunakan kalimatkalimat, perkembangan anak
lebih canggih bahasa. Brown menyarankan bahwa bahasa berkembang secara bertahap
berurutan: ucapan-ucapan, frasa dengan infleksi, kalimat sederhana, dan kalimat
kompleks. Sintaks dasar, menurut Brown, tidak sepenuhnya menyadari sampai
sekitar usia 10 tahun.
Anak-anak prasekolah
belajar kata-kata baru. Orang tua, saudara, teman, guru, dan media memberikan
kesempatan bagi anak prasekolah untuk meningkatkan kosa kata mereka. Akibatnya,
akuisisi bahasa terjadi dalam konteks sosial dan budaya. Agen Sosialisasi
menyediakan lebih dari sekedar kata-kata dan makna mereka, namun. Agen ini
mengajarkan anak bagaimana berpikir dan bertindak dengan cara yang diterima
secara sosial. Anak-anak belajar tentang masyarakat ketika mereka belajar
tentang bahasa. Nilai-nilai masyarakat, norma-norma, folkways (aturan informal perilaku
yang dapat diterima), dan adat istiadat (aturan formal perilaku yang dapat
diterima) yang ditularkan oleh bagaimana orang tua dan lain-lain menunjukkan
penggunaan kata-kata.
3. Perkembangan Ingatan
Memori adalah kemampuan
untuk mengkodekan, mempertahankan, dan mengingat informasi dari waktu ke waktu.
Anak-anak harus belajar untuk mengkodekan benda, orang, dan tempat-tempat dan
kemudian dapat mengingat mereka dari memori jangka panjang.
Anak-anak kecil tidak
ingat serta anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa. Selain itu, anak-anak
ini lebih baik dari pada pengakuan tugas ingat memori. Peneliti menduga
beberapa kemungkinan penyebab untuk pengembangan ini. Salah satu penjelasan
adalah bahwa anak-anak prasekolah mungkin kurang dalam aspek-aspek tertentu
dari perkembangan otak yang diperlukan untuk kemampuan memori matang.
Penjelasan lain adalah bahwa anak-anak prasekolah tidak memiliki nomor yang
sama dan jenis pengalaman untuk memanfaatkan sebagai orang dewasa saat memproses
informasi. Alasan lain adalah bahwa anak-anak kurang perhatian selektif, yang
berarti mereka lebih mudah terganggu. Masih penjelasan lain adalah bahwa
anak-anak tidak memiliki kualitas yang sama dan kuantitas strategi mnemonic
efektif sebagai orang dewasa.
Anak-anak prasekolah, namun,
menunjukkan minat yang kuat dalam belajar. Apa seorang anak mungkin kurang
dalam keterampilan terdiri dalam inisiatif. Jadi anak-anak memiliki rasa ingin
tahu yang melekat tentang dunia, yang mendorong kebutuhan untuk belajar
sebanyak mungkin, secepat mungkin. Beberapa anak muda mungkin menjadi frustrasi
ketika belajar tidak terjadi secepat atau mengingat seefisien anak yang lebih
tua. Ketika situasi belajar yang terstruktur sehingga anak-anak dapat berhasil
menetapkan tujuan-cukup dicapai dan memberikan bimbingan dan dukungan-anak bisa
menjadi sangat matang dalam kemampuan mereka untuk memproses informasi.
4. Perkembangan permainan
Sejak masih dalam
buaian anak telah mulai bermain-main dengan tangannya, kakinya, dan lain-lainnya.
Kemudian ia bermain dengan benda-benda yag didipatinya disekitarnya, akhirnya
ia membutuhkan alat untuk bermain. Dibawah ini adalah teori-teori tentang
permain anak:
a. Teori Herbert Spencer
Teorinya bernama teori
kelebihan tenaga. Ia berpendapat bahwa anak itu bermain, karena didalam diri
anak tersimpan tenaga lebih, sehingga harus disalurkan. Sehingga sangat wajar
bila anak usia dini sangat aktif dalam bergerak atau bermain, kaena itu
merupakan salah satu cara merekan mengapresiasikan tenaga yang ia miliki.
b. Teori Karl Groos
Teorinya bernama teori
biologis. Anak-anak bermain karena mereka harus mempersiapkan diri dengan
tenaga dan fisiknya untuk masa depannya. Tentang lebih banyaknya permainan anak
yang stu dengan yang lain, oleh Groos dikatakan bahwa makin tinggi tingkat
hidup seseorang, maka makin banyaklah yang harus dipersiapkannya. Jadi anak
lebih mementingkan bermain dari pada yang lainnya.
c. Teori Kohnstamm
Teorinya dinamakan
teori kepribadian. Anak bermain karena dalam permainan itu mereka barada dalam
suasana yan g bebas, sehingga ada kesempatan untuk menunjukkan kepribadiannya,
yang sesungguhnya. Baik kepribadian sebagai individu maupun kepribadiannya sebagai
anggota masyarakat.
5. Perkembangan Psikososial
Masa ini adalah masa
dimana anak-anak berumur 2-6 tahun. Masa ini dimulai dengan waktu anak-anak
belajar berdiri sendiri, yang artinya tidak membutuhkan bantuan dalam hal
apapun, dan masa ini diakhiri dengan waktu dimana anak sudah harus bersekolah
dengan sungguhsungguh. Jadi dalam taraf ini, anak akan belajar hal-hal dasar
dengan usahanya sendiri, seperti jalan, memegang dan mengambil benda, serta
masih banyak hal yang lain. Aspek penting dalam perkembangan psikososial yang
terjadi pada masa ini, diantaranya, permaianan, hubungan dengan orang tua,
teman sebaya, perkembangan gender, dan moral.[5]
Kesimpulannya bahwa dalam usia 2-6 tahun ini ada beberapa aspek yang menunjang
perkembangan psikososial si anak, diantaranya permainan yang mana pada umur 2-6
tahun ini permainan berfungsi untuk melatih ketangkasan, emosi anak, dan cara
berfikirnya. Kemudian dari aspek hubungan dengan orang tua, dan teman sebaya,
dimana pada usia ini anak akan belajar bagaimana caranya untuk berkomunikasi
dengan orang tua, atau temannya. Selain itu, jika hubungan antara anak dan
temannya kurang baik, hal itu akan mempengaruhi perkembangannya. Sesuai dengan
tugas pada masa kanak-kanak awal yaitu membedakan gender, yang mana saat usia
seperti ini anak akan belajar membedakan gender, bagaimana cara anak bisa
mengembangkan kepercayaan identitas gender, dan lain sebagainya.
6. Perkembangan Hubungan dengan Orang Tua
Hubungan dengan orang
tua merupakan dasar bagi terbentuknya perkembangan emosional dan sosial anak.
Salah satu hal yang penting dalam hubungan antara orang tua dan anak adalah
gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua. Menurut Diana Baumrind (1972) dalam
Lerner, dan Hultsch (1983) dalam Psikologi Perkembangan merekomendasikan tiga
tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah
laku sosial anak, yaitu otoritatif, otoriter, dan permisif :
1) Pengasuhan Otoritatif ; gaya pengasuhan
yang ketat, tapi juga bersikap responsif, menghargai perasaan dan pemikiran
anak, serta mengikut sertakan anak dalam mengambil keputusan. Disamping itu
pengasuhan model ini membuat anak lebih percaya diri, pengawasan sendiri, dan mampu
bergaul dengan baik.
2)
Pengasuhan
Otoriter ; Pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah
orang tua.
3)
Pengasuhan
Permisif ; dibedakan dalam dua bentuk, yaitu :
a. Permisif-Indulgent ; orang tua ikut
terlibat dalam kehidupan anak, tapi menetapkan sedikit batas pada anak. Pada
model ini orang tua cenderung membiarkan anak melakukan apapun yang diinginkan,
dan pada model ini, anak akan mengalami kurangnya pengendalian diri.
b. Permisif-Indifferent ; orang tua tidak
terlibat dalam kehidupan anak, dan efek nya pada anak adalah membuat kurang
percaya diri, pengendalian diri yang buruk, dan rasa harga diri yang rendah.
7. Perkembangan Hubungan dengan Teman
Sebaya
Istilah teman sebaya
leibh ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis menurut Lewis &
Rosenblum, 1975 (dalam Psikologi Perkembangan, Desmita, 2005 ; 145). Salah satu
fungsi teman sebaya adalah menyediakan suatu sumber dan perbandingan temtang
dunia luar keluarga. Dalam proses ini anak menjadiak orang lain sebagai tolok
ukur.
8. Perkembangan Gender
Kebanyakan anak
mengalami sekurang-kurangnya tiga tahap dalam perkembangan gender (Shepherd-Look,
1982). Pertama, anak mengembangkan kepercayaan tentang identitas gender, yaitu
rasa laki-laki atau perempuan. Kedua, anak mengembangkan keistimewaan gender,
sikap tentang jenis kelamin mana yang mereka kehendaki. Ketiga, mereka
memperoleh ketetapan gender, suatu kepercayaan bahwa jenis kelamin seseorang
ditentukan secara biologis, permanen, dan tak berubah-ubah. Pengetahuan tentang
ketiga aspek gender tersebut dinamakan sebagai peran jenis kelamin, atau stereotip
gender. Pada umumnya, anak mencapai ketetapan gender pada usia 7- 9 tahun.
Jadi, dalam perkembangan psikososial ini anak akan belajar untuk mengembangkan kepercayaan
identitas gender, dan sesuai dengan tugas dari perkembangan itu sendiri, yakni menbedakan
jenis kelamin. Dalam tahap ini juga, anak akan bisa mengarahkan dirinya pada
sikap jenis kelamin mana yang mereka kehendaki, yang pada akhirnya mereka akan
memperoleh ketetapan gender.
9. Perkembangan Sosial
Berhasil atau tidaknya
seorang anak menjalin hubungan dengan orang lain tergantung pada pengalaman-pengalaman
pergaulan yang didapatnya di rumah. Pada kenyataannya, anak yang mendapat
aturan-aturan yang demokratis dirumahnya, bisa mengadakan penyesuaian yang
lebih baik, dari pada anak yang di didik secara otoriter oleh orang tuanya.
Serta tempat anak dalam keluarga juga mempengaruhi penyesuaian-penyesuaian
sosialnya. Jadi, hubungan anak dengan orang tua juga mempengaruhi perkembangan
psikologi anak, termasuk juga didalamnya metode pendidikan yang diterapkan
orang tua pada anak nya, serta tempat anak dalam keluarga juga mempengaruhi
perkembangannya. Melalui interaksi dengan orang lain, ia segera menangkap apa yang
diharapkan dalam situasi sosial, dan anak akan sampai pada perkembangan
sejumlah pemahaman sosial.[6]
Jadi, melalui interaksi anak akan belajar memahami apa yang diinginkan orang
lain, dan hal seperti ini juga membantu anak untuk mencapai puncak dari
perkembangan sosial itu sendiri. Beberapa macam bentuk bentuk tingkah laku
sosial yang nampak pada anak :
a. Negativisme, artinya penolakan terhadap
kekuasaan orang dewasa. Hal ini terdapat pada anak antara usia 3 dan 4 tahun.
Setelah umur itu, hal ini akan berkurang cepat, walaupun tidak seluruhnya. Hal
ini disebabkan timbulnya rasa “aku” dalam diri anak, sehingga dia menyadari, bahwa
dia berhak mempunyai kemauan sendiri.
b.
Persaingan,
Pada umur kurang lebih 4 tahun, anak mulai mempunyai keinginan untuk melebihi
anak lain. Maka dari itu anak pad usia ini sering menyombongkan apa yang dimilikinya.
c.
Sikap
Agresif, sikap ini sering ditunjukkan oleh anak yang ingin mempunyai kekuasaan.
Anak lebih bersikap agresif apabila ada seorang dewasa yang ingin ditarik
perhatiannya berada dekatnya. Anak-anak mulai menunjukkan sikap agresifnya
mulai umur 2-4 tahun. Pada umur 4-5 tahun anak akan lebih menunjukkan sikap
agresif dengan cara verbal, dari pada menyerang secara langsung dengan memukul
ataupun yang lainnya.
d.
Kerjasama,
pada dasarnya anak kecil adalah “Self Centered”, dan senang bertengkar, maka dalam
permainannya dapat dikatakan tidak ada kerjasama. Pada umur 3 tahun, anak telah
bias bermain dengan teman sebayanya dalam waktu yang agak lama, dan telah
nampak adanya keaktifan dalam kelompok (group activities), dan semakin lama
semakin banyak pula pengalamannya, sehingga anak akan belajar bekerjasama
dengan anak lain dan bermain secara harmonis.
e. Sikap Egoistis, hal ini terjadi pada
usia 3 tahun, atau mungkin pada usia 4 tahun. Setelah anak menjadi pusat
perhatian, dia akan merasa bahwa segala sesuatunya harus seperti
kehendaknya.Dan setelah dari pengalamannya, dia akan sadar bahwa egoisme akan
menjadi penghalang baginya untuk mencapai hubungan dengan teman-temannya, maka
dia akan mengganti perhatian kepada dirinya dengan perhatian kepada temannya.
Maka dia akan mau mengizinkan teman-temannya untuk mempergunakan miliknya.
10. Perkembangan Emosi
Anak pada masa ini
lebih emosional dari pada masa-masa perkembangan lainnya. Hal ini nampak pada
anak yang berumur 21/2 tahun sampai 31/2 tahun, dan umur 51/2 tahun sampai 61/2
tahun.[7]
Penyebab emosional anak pada masa ini adalah :
1) Pada umumnya permainan anak pada masa
ini lebih ribut atau kasar, sehingga akhirnya mereka menjadi amat capai.
2)
Menentang
untuk tidur siang.
3) Menentang untuk banyak makan.
Namun Pada dasarnya,
emosionalitas yang muncul disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologik.
Kabanyakan anak merasa bahwa mereka dapat melakukan banyak hal, maka mereka menentang
larangan terhadap dirinya. Dan anak-anak pada umur ini seringkali marah ketika
mereka tidak dapat mengerjakan suatu hal yang mereka anggap mudah. Hal-hal yang
Menyebabkan Perbedaan-perbedaan dalam emosionalitas:
1) Perbedaan dalam keadaan sekitar.
2)
Perbedaan
dalam hal kesehatan.
3)
Pola
tingkah laku yang berhubungan dengan emosi-emosi yang dikembangkan selama masa bayi.
4)
Perasaan
tentang diri (Self).
5) Otonomi dan Inisiatif yang berkembang.[8]
BABIII
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Perkembangan Fisik Masa kanak-kanak awal
terjadi pada rentang usia 2 – 6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa
prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.
Perubahan yang terjadi meliputi :
a.
Perubahan-perubahan
dalam tubuh, seperti pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan
tinggi dan berat, hormon dll.
b.
Perubahan-perubahan
dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya, seperti perkembangan
keterampilan motorik dan perkembangan seksual.
c. Perubahan dalam kemampuan fisik, seperti
penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya.
2. Perkembangan Kognitif meliputi perkembangan :
a. Perkembangan Motorik
b.
Perkembangan
Bahasa
c.
Perkembangan
ingatan
d. Perkembangan permainan
3. Perkembangan Psikososial masa ini dimulai dengan
waktu anak-anak belajar berdiri sendiri, yang artinya tidak membutuhkan bantuan
dalam hal apapun, dan masa ini diakhiri dengan waktu dimana anak sudah harus
bersekolah dengan sungguh-sungguh. meliputi perkembangan.
a. Perkembangan Permainan.
b.
Perkembangan
Hubungan dengan Orang Tua
c.
Perkembangan
Hubungan dengan Teman Sebaya
d.
Perkembangan
Gender
e.
Perkembangan
Sosial
f. Perkembangan Emosi
DAFTAR PUSTAKA
Dariyo, Agus. 2007 .Psikologi Perkembangan anak tiga
tahun pertama. Bandung: Refika
Aditama.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Hidayati, Wiji dan Purnami Sri. 2008. Psikologi
Perkembangan, Yogya: Teras.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan.
Jakarta: Kencana.
Kartono,Kartini. 1999. Psikologi Anak. Bandung:
Bandar Maju.
Soesilowindradini. Psikologi Perkembangan (Masa
Remaja), Surabaya: Usaha Nasional.
Sujanto,Agus. 1977. Psikologi Perkembangan.
Surabaya: Aksara Baru.
[1] Jhon w. santrock, Perkembangan
Anak, (Jakarta : Erlangga, 2007), hlm. 160.
[2] Agus Dariyo, Psikologi
Perkembangan anak tiga tahun pertama,(Bandung: Refika Aditama,
2007), hlm. 38.
[3] L. Zulkifli, Psikologi
Perkembangan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1986), hal: 31
[4] Agus Sujanto, Psikologi
perkembangan, (Surabaya: Aksara Baru, 1977), hlm. 27.
[5] Yudrik Jahja, Psikologi
Perkembangan, hlm. 191
[6] Wiji Hidayati dan Sri Purnami, Psikologi
Perkembangan, hlm. 124.
[7] Ibid, Seosilowindradini, hlm. 92
[8]Ibid, Wiji Hidayati dan Sri Purnami, hlm. 122.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar